Inilah ikon dunia metal yang diperkenalkan Barat kepada anak-anak muda jaman sekarang
Hari
itu aku berjalan seharian tanpa tujuan jelas di luar sana. Saat di
bawah terik sinar matahari, tubuhku bermandikan keringat, bau badanku
pun tercium olehku & itu bisa kuterima (cz,sebusuk-busuknya
itukn bau badanku sendiri,demikian pikirku), saat aku berjalan di
samping genangan air lumpur, ada mobil truk melaju & melindas
genangan air itu sehingga air itu muncrat mengenai sebagian dari baju
kaos kesayanganku, tak ayal lagi aku pun berlari berusaha mengejar truk
itu sambil memaki-maki supir truk itu, tapi supir & truknya
tetap melaju. Aku pasrah dengan baju kotor & berlumpur ini.
Kini keringatku dibasuh oleh lumpur dibaju yg masih basah &
airnya menetes di sepanjang jalan. Aku bukannya memerah air itu,apalagi
berpikiran untuk membersihkannya dulu & menggantinya. malah
membiarkannya, “panas matahari sudah cukup mengeringkan baju yang ku
pakai” pikirku. “Ah..membersihkan,mencucinya hanya membuang waktu
& tenaga saja. Memang warna hitam baju kaos yg ku kenakan ini
masih bisa menutupi lumpur yg menempel jadi dari jauh tidak kelihatan.
Tapi semakin lama semakin gerah & panas saja badanku ini.
Padahal aku tau, warna hitam itu menyerap panas,tapi masih ku pakai.
Ya,memang Cuma baju kaos hitam yang menjadi favoritku. Aku lebih senang
warna hitam dan merah darah. Di bajuku ini terpampang gambar tengkorak
berdarah & berbalut rantai berduri & berapi dengan
tulisan berbentuk sayatan pisau “DEVIL GO TO HELL” yang disablon.
Kaos anak metal dr jaman dulu sampai sekarang gambarnya ya..tengkorak ini yg paling terkenal
Jadi
klo aku cuci, aku takut gambar sablonan itu luntur &
terkelupas. Ku tarik baju kaosku dan kudekatkan kehidungku,” ah, ini
gak bau-bau amat”sambil mencium baju kaos yg terkena lumpur.
Kulanjutkan melangkah menyusuri balok-balok semen yang disusun menutupi
lobang selokan pinggir jalan. Aku sambil bernyanyi mengikuti gebrakan
musik underground rock metal di ipod baruku. Tubuhku ikut berjingkrak
bak anak metal, aku tak peduli sorotan mata orang-orang yang iri,sinis
memandangiku di sepanjang jalan.” Sesekali aku teriak dgn suara parau
& serak meniru vokalis metal tuk menjiwai musik metalika ini.
Aku asyik dengan musik ini, sambil berjingkrak, kakiku melompat-lompat
& tak sadar aku menginjak semen yang retak dan akupun
terperosok di lobang selokan. Ternyata selokan ini cukup dalam, tubuhku
nyaris tenggelam. Lumpur hitam dan bau comberan yang menyengat hidung
serta gumpalan sampah dan lendir kini berada dekat hidungku. Aku nyaris
lemas, ku angkat kedua belah tanganku mencari pegangan agak aku tak
tenggelam & bergumal dalam lumpur pekat itu. Aku hampir putus
asa, tubuhku semakin lemas dan berat, untung ada yang meraih
tanganku,entah tak tau siapa, yang jelas ia berusaha menarikku ke
permukaan. Meski tenaganya tak terlalu kuat, kutarik tangannya, ia pun
berteriak minta tolong dengan orang-orang. “Tolooong,
toloooong,tolooooong, ada orang kecebur selokan!!!”...,entah bagaimana
caranya, orang-orang menaikkan aku ke permukaan, di tepi jalan aku
dikerumuni orang ramai. Saat itu aku tak sadarkan diri alias pingsan.
Sekujur tubuhku penuh dengan lumpur & perutku juga kembung
akibat banyak menelan lumpur itu. Orang mengira aku telah mati lemas.
Rasa sejuk mengalir keseluruh tubuhku, pandanganku kabur, “Hei anak
muda, sadarlah-sadarlah!”sambil pipiku ditampar-tampar pelan oleh
seseorang yg tak kukenal. Namun,suara beratnya membuatku sadar. Kubuka
mataku perlahan,kulihat disekelilingku orang ramai memandangiku,
“alhamdulillah, anak muda ini sadar juga” kata seorang kakek tua di
depanku. Sebagian orang menutup hidungnya,karena tak tahan mencium bau
busuk diriku. Di samping tubuhku disiram air oleh seseorang pemuda yg
juga tak kukenal. Ternyata tubuhku dibersihkan dari lumpur yang melekat.
Aku mencoba duduk, dan bengong, tak tau mau berkata apa sama mereka
& kepalaku pusing. “Sudah-sudah,maaf ya Bapak-bapak,ibu-ibu,
semuanya boleh bubar,ini bukan tontonan” ujar seorang kakek tua.
“Ya..bapak-bapak
& ibu-ibu sekarang silakan pulang, biar kami yang mengurus
anak muda ini” timpal pemuda tadi yg menyirami air bersih ke tubuhku.
Orang-orang pun bubar. Tubuhku masih lemas tak berdaya, aku terlalu
banyak meminum & menelan lumpur comberan itu.
Iiiiiak!..,berkali-kali ingin kumuntahkan semua isi dalam perutku
ini,tapi tak juga bisa. “Sudahlah anak muda, sudah..,istirahatlah dulu”
kata kakek itu. Mataku berat,penglihatanku gelap lagi, aku pingsan
lagi. Aku dipapah dan dibawa ke sebuah pondok. “Aku mau di bawa ke
mana, aku masih kuat,jangan berani-berani pegang !”aku sempat berontak
sama mereka (si kakek & pemuda),mereka melepaskanku. meski
badanku masih menggigil kedinginan, jalanku juga masih mengambang
seperti orang mabuk. tiba-tiba kesadaranku hilang kembali, seperti
orang yang sangat mengantuk lalu tertidur. Tubuhku rebah &
mereka kembali membawaku ke pondok itu.

Dari pojok sana kulihat asap perapian mengepul-ngepul dan seorang kakek sedang memasak sesuatu, ia meniup-niup bara api.
Entah
berapa lama aku tak sadarkan diri. Kubuka mataku, kulihat di
sekelilingku pondok kayu beratapkan daun pohon nipah. Pondoknya sangat
sederhana. Di tempat aku berbaring ini hanya beralaskan kardus bekas.
Dari pojok sana kulihat asap perapian mengepul-ngepul dan seorang kakek
sedang memasak sesuatu, ia meniup-niup bara api. Dan tak lama
kuperhatikan kakek itu. Terdengar olehku suara pemuda itu memberi
salam,”assalamu’alaikuum ki!” “Wa’alaikum salaam cu!” sahut kakek itu
dari dapur yang dibuat dari bongkahan batu dan tanah liat. Pemuda itu
memandangiku sejenak, dan berujar,”Ki, tampaknya ia sudah siuman” “Oh
ya, syukurlaah”jawab kakek itu. “Ini aki buatkan bubur untuknya, coba
tolong berikan bubur ini sama dia”suruh kakek itu. Pemuda itu meletakkan
kayu bakar yang dibawanya, lalu mengantarkan bubur kepadaku.
Sepertinya, aku dibawa cukup jauh dari perkotaan, tapi pakai apa mereka
membawaku? Tanyaku dalam hati. Mengapa mereka mau menolongku,akukan
bukan siapa-siapanya merek”gumamku dalam pikiran. Tapi..sudahlah,aku
gak mau pusing-pusing mikirin hal yang gak jelas,yang penting aku bisa
istirahat,lagi pula badanku pegal semua. “bang, ini bubur silakan
dimakan,abang pasti lapar” kata pemuda itu sambil memberikan semangkuk
bubur hangat padaku. Akupun mengambil mangkuk itu, ya memang terasa
sangat lapar aku hari ini belum makan. “jangan lupa bang, baca bismillah
dulu”ujar pemuda itu. “bismillaahirrahmaanirrahiim” ujar pemuda itu.
Aku berhenti sejenak mendengarkan ucapan itu,tapi mulutku Cuma komat
kamit belum pernah kudengar ucapan apa itu, masa’ mau makan aja pke’
bacaan segala, akupun melahap segera bubur itu sampai habis. Aku tak
peduli dengan pemuda itu. Ia tersenyum melihatku makan serakus ini, lalu
meninggalkanku.
“sudah selesai makannya anak muda?” tanya kakek
sambil membincing ceret air yang masih mengepul uapnya. Aku Cuma
menganggukan kepalaku dua kali. “kalau begitu, berikan dia air
minum”ujar kakek. Pemuda itu memberiku segelas air putih. Kuraih gelas
itu, dan lansung ku teguk. Memang sangat dahaga tenggorokan ini.
“Kurang!”kataku kasar sambil mengacungkan gelas itu pada pemuda itu. Ia
tersenyum, dan menuangkan air putih dari ceret yang dibawanya. Aku
minum sampai sepuluh gelas. Lalu untuk apa si kakek menuangkan air
panas kegelas tanah liat di sampingku. Akukan sudah minum banyak. Ku
pandangi kakek, kakek pun memandangiku, ku geleng-gelengkan kepalaku
dan menepuk-nepuk perutku yg kembung. “Ya, aki tau,perutmu masih
dipenuhi lumpur, makanya aki buatkan ramuan ini agar lumpur itu bisa
kau buang nanti bersama kotoran, kamu mau kan meminumnya ?” ujar kakek.
Ku anggukan kepalaku. “Terserah kamu, mau diminum sekarang atau nanti
saja” kata kakek. Kakek pun berlalu dariku.

Hari
semakin sore dan gelap. Pintu pondok dan jendela ditutup rapat. Di
pondok ini tak ada listrik, mereka cuma pakai lentera. Aku melihat
mereka melakukan sesuatu yang persis sama dilakukan oleh orang-orang di
masjid atau surau, tapi sedang apa mereka. Setiap gerakan kudengar
“Alloohu akbar”. Aku cuma memandangi sebentar dan kulirik air ramuan
kakek, moga masih hangat jadi anggap aja ngopi. Kuseruput air itu sampai
habis. “Aahhh...,meski agak lengket-lengket dilidah, gak tau ramuan
apa ini. Tak berapa lama kemudian, aku merasakan agak aneh, perutku
mulas & aku mual-mual. “Waaah gawat ni, sepertinya isi dalam
perut ini melilit sekali, di mana aku harus buang air” pikirku. “Sudah
diminum ramuannya, anak muda?” tanya kakek dari kejauhan. aku hanya
berdehem-dehem. “kalau sudah, silakan kamu pergi ke belakang,”ujar
kakek. Aku bingung di belakang mana, aduuuuh sudah gak tahan nih. “Cu,
cepat tunjukan dia” kata kakek. Pemuda itu mengantarku ke belakang
sambil membawa obor yang dibuat dari sabut kelapa dan bambu. Antara
pondok dan WC berjarak 10 meter, di sekelilingku hutan lebat dan
berbagai macam bunyi yang kudengar.. “Bang, apa aku menunggu disini atau
abang sendirian saja” tanya pemuda itu. “Biarkan aku sendiri” kataku.
“Baiklah, aku pergi dulu bang” sambil meletakan obor ditempatnya yang
dibuat pada tiang di luar WC. Di dalam WC, bulu romaku merinding. Entah
kenapa. Aku jadi penakut. “Aah...kalau pun ada yang berani menakutiku,
akan kutonjok dia.
Metalica,identik simbol kehancuran/ancur-ancuran?
Saat
buang air, tiba-tiba angin bertiup sehingga obor diluar pun padam.
“Yaaah..sialan!.., obor di luar padam lagi” gumamku dalam hati. Aku
semakin merinding, dan segera mungkin menyelesaikan buang air ku dan
membasuh duburku sampai bersih. Aku segera keluar dari WC, dan melihat
pondok yang terang dari kejauhan 10 meter, aku pun berlari menuju pondok
tanpa menghiraukan apa-apa saja yang ku injak. Aku sampai lupa membawa
obor itu.
Suasana
malam gelap gulita kian mencekap. Sepoi angin seakan berbisik-bisik
menyampaikan pesan-pesan misteri & tersembunyi di balik
pepohonan rindang.
Sesampai di pondok, napasku
tersengal-sengal. “Ada apa anak muda?” tanya kakek heran. Kulihat mereka
sedang makan malam di lantai. Aku tidak menjawab, aku langsung ke
tempat tidurku dan berbaring sambil mengatur napas. “Cu, beri dia minum
air hangat” ujar kakek. Pemuda itu menuangkan air hangat ke dalam
gelasku. Dan menaruh ceret air di samping gelas. Akupun meminumnya.
“Anak muda, mari ke sini, makan bersama kami” ajak kakek. “Nanti saja”
kataku. “Baiklah, kalau abang merasa lapar, ambil saja sendiri di dapur
ada nasi,lauk & sayur yang disimpankan untuk abang, habisi
saja. Kami sudah makan.” Ujar pemuda itu. Memang wajar ia memanggilku
abang, ia sepertinya lebih muda dariku. “Tapi mengapa, mereka sungguh
baik denganku. orang tuaku dan teman-temanku saja tidak sebaik ini,
malah orang-orang di kota banyak membenciku” pikirku.
Hari
semakin larut, pukul 22.15 WIB. perutku keroncongan, sebenarnya dari
tadi aku ingin makan. Aku malu dengan mereka yang tidak kukenal malah
membawaku dan merawatku di pondak ini. Aku bangun dari tempat tidur,
kucari piring kubabak belanga, periuk dan kuali di dapur. Aku takut
membangunkan mereka. Ku ambil semua nasi yang ada, dan semua lauk
& sayur. Aku makan sendirian di lantai dengan lahap. Selesai
makan aku pun kembali tidur.
“ALLOOHUAKBAR...SAMIALLOOHULIMAN
HAMIDAH...ALLOOOHUAKBAR..!,” Suara itu sayup-sayup kudengar. Suara itu
pula yang membangunkanku. Kulihat jam di dinding pukul 04.25 WIB. wah
sudah pagi. Oh, ternyata, si kakek dan pemuda itu melakukan gerakan
senam pagi,tapi kok pagi buta begini sudah senam?” ujarku dalam hati.
“Aah sudahlah...,mataku masih ngantuk, jadi aku tidur lagi”.
Dalam
tidurku, aku bermimpi berjalan-jalan ditepian jalan di perkotaan, aku
khawatir terperosok lagi, sehingga aku memilih jalan lain yang aman.
Yang tidak ada selokannya. Tapi, ternyata aku tak ada pilihan lagi.
Tiba-tiba, air selokan meluap dan limbah lumpur nya melimpah keluar, aku
ketakutan berusaha berlari dari kejaran limbah lumpur itu,
waaaaaaah....lumpurnya melebihi lumpur lapindo, semua jalan ditutupi
lumpur, bahkan rumah-rumah, gedung-gedung habis dilibas lumpur hitam itu
,aku berteriak minta tolong, kuteriakan “ALLOOOOHUAKBAR!!!..
berkali-kali lumpur itu surut tiba-tiba..,aku kapok terkena lumpur itu
lagi” aku terus berteriak mengucapkan “ALLOOHUAKBAR!!!” sekeras mungkin
bahkan, kuteriakan dengan suara khas parau anak metal. Ku lihat lumpur
tadi yang mengering serta-merta hancur seperti diterpa gempa yang
sangat keras, awan mendung pun berkumpul suara mengguntur dari langit
dan sambaran halilintar memekakan telinga terdengar, lalu hujan
deraspun turun menyapu dan menggerus lumpur hitam itu. Perkotaan
kembali bersih diterpa hujan.
pagi ini hujan cukup deras yang disertai gemuruh ,petir dan angin kencang.Mendengar
teriakanku, kakek dan pemuda itu terkejut heran dan menghampiriku.
Mereka berusaha membangunkanku dari tidurku. “Anak muda, anak
muda!...bangun-bangun...!”, astaghfirullooh...,istighfar anak muda, ku
buka mataku, hah, ternyata aku bermimpi. Ikuti kata kakek,
“Astaghfirulloohal ‘aziiim” akupun mengikutinya dengan terbata-bata dan
berkali-kali. “ini ki air minumnya” kata pemuda sambil memberikan
segelas air minum ke kakek. “Ayo diminum dulu, tenangkan dirimu anak
muda” kata kakek sambil memberiku minum. Memang ternyata, pagi ini hujan
cukup deras yang disertai gemuruh ,petir dan angin kencang. Syukurlah
pondok ini terlindungi oleh rimbunan pepohonan sehingga angin
membencar dan tidak terlalu kuat mengenai pondok ini.
Pagi itu,
kuceritakan mimpiku kepada mereka. Mereka berdua saling berpandangan dan
tersenyum. Aku heran melihat mereka. Dan mereka memandangiku sambil
tersenyum pula. “Sorry, ada yang aneh dengan ku?” tanyaku. “Tidak anak
muda, tidak ada yang aneh denganmu” kata kakek. “aku kapok,aku tak mau
lagi ketiban sial di jalanan sana”kataku. “Ketiban sial?”tanya kakek
heran. “Ya,aku tak mau terperosok & kotor lagi” jawabku.
“Baiklah,kalau memang itu maumu, mari ikut aki” kata kakek. “Kemana?”
tanyaku. “ikutlah,kamu gak mau kotor lagi kan?” ujar kakek. Aku
mengangguk. Aku pun mengikuti kakek itu. “Cu, sudah penuh air di drum?”
tanya kakek pada pemuda itu. “Sudah Ki” sahut pemuda itu. “Masuklah ke
kamar mandi itu, buka semua baju dan celanamu anak muda, dan pakailah
kain basahan ini” kata kakek sambil memberikan kain bekas tepung
gandum”. Kakek menunggu diluar, sini baju dan celanamu anak muda, biar
cucuku yang mencucinya. “wey, tolong baju kaosku, yang gambar tengkorak
itu jangan disikat ya, aku gak mau gambarnya sampai terkelupas. “Kamu
tenang saja anak muda, cucuku, lihai dalam mencuci, dia punya banyak
akal,gimana cara mencuci baju tanpa menghilangkan gambar sablon yang
menempel. “Kebetulan, dia bekerja jadi tukang sablon kaos di pasar sana”
ujar kakek. “Oh ya, waah bagus tu, di mana tu?” tanyaku sambil
menggosok-gosok badanmu dengan sabun. “di pasar Nobon.”sahut pemuda itu
sambil merendam pakaianku dengan sabun cuci colet. Ow..pasar Nobon
alias No Ngebon itu?”ujarku. “Iya bang, alias tak boleh ngutang he
he..”jawab pemuda itu. “Gimana mau ngutang, barang dagangannya harganya
lumayan murah semua, aki dan orang kampung di sini banyak yang milih
belanja di pasar itu.” Ujar kakek. “aku jarang ke pasar Nobon, aku
lebih memilih pasar diseberang sana, pasar Bodai” kataku. Oh, pasar
Bodai itu alias boleh gadai ya bang?”ujar pemuda itu. “Ya”jawabku.
“Jadi,kalo abang gak punya uang, abang boleh gadai barang apa aja
gitu?” tanya pemuda itu. “ya iyalah,aku sering gadai barang di
sana”jawabku. “apa gak rugi bang?”tanya pemuda itu. “peduli amat, yg
penting aku dapetin barang yang kuinginkan”jawabku. “Sudah-sudah, nanti
saja dilanjutkan ngobrolnya, ayo anak muda sudah selesai mandinya?”
tanya kakek. “Sudah Ki” kataku. “Kamu juga cu, cepatlah selesaikan
cucianmu, lalu ambilkan handuk dan pakaian bersih untuk anak muda ini”
ujar kakek. “Ya ki” sahut pemuda itu.
Seusai mandi, aku memakai
pakaian yang diberikan pemuda itu. Aku dipinjamkan baju kaos lengan
panjang dan kain sarung. Ini memang bukan bajuku, semua bajuku yang
kubawa didalam tas habis terendam lumpur. Ku lihat, sudah dicuci
semuanya dan dianginkan pada tali jemuran dalam rumah. Karena memang
hari belum begitu panas. Tapi baju kaos siapa ini, kalau baju si pemuda
itu gak mungkin, karena baju ini cukup besar ukurannya dan pas dengan
size tubuhku. Apalagi si kakek, mana mungkin ini baju si kakek. Baju
kaos polos ini sepertinya masih baru. Apakah si pemuda itu sengaja
membelikan aku?” sebaik itukan dia?” ah sudahlah. “Ada apa bang?, abang
gak suka ya dengan baju ini?” tanya pemuda itu. “nggak, aku suka kok”
jawabku. “Tapi, kenapa aku cuma pakai kain sarung, apa gak ada celana
panjang gitu?” tanyaku. “ada kok, tapi aki yang nyuruh bang”jawab
pemuda. “Sumpah, aku gak biasa aja pakai sarung gini, kayak mau sunatan
aja” kataku. “Anak muda, mari sini ngopi bareng sama aki” ajak kakek
yang lagi duduk nyantai di tikar pandan. “Mari bang, kebetulan hujan
begini enaknya ngopi sama makan ubi rebus, tadi pagi kakek merebus ubi
rambat hasil tanamannya di kebun belakang. Akupun bersama pemuda itu
menghampiri kakek yang biasa disapa Aki oleh orang sekampung.

Kalo udah ngopi, temennya so pasti rokok. Mau anak muda,org tua di negeri ini pada suka tu. Palagi musim hujan,pas banget tu.
Kami
bertigapun asyik mengobrol sambil menyantap ubi rebus dan menyeruput
kopi buatan yang dibeli dari orang kampung. Aku memperkenalkan diriku,
asal usulku, namaku dan segala hal yang mereka ingin tau dari diriku.
“Oh bang Opick Nujoum namanya, “tapi orang-orang biasa memanggilku
Opium” kataku. “Waah kaya nama narkoba aja bang”. “emang”. kalau
namamu?”tanyaku. “aku Cuapingno Tongkole, tapi orang kampung biasa
manggil aku Cuap/cu .” Aki memanggilku dengan sebutan ucu/cu, sebab aku
anak yang bungsu.” Kata Cuapingno. “Kalau Aki, namanya Ampulele Kuelame
Ikangno,makanya disapa aki”kata si Cuapingno. “Weih, panjang juga ya,
unik juga kedengarannya nama orang kampung sini.” Kataku. “Aki
sekeluarga suka pelihara ikan?” tanyaku. “iya tapi dulu waktu ayah,ibu
dan abang si cu masih hidup, eh, kok anak muda tau?” tanya Aki.
“Owh,wajar saja, dari nama unik kalian saya nebak saja, soalnya nama Aki
dan Si Cu ada terselip nama ikan, benar gak?” tanyaku. “Ya,opick
betul, warga di sini memberi nama keluarganya sesuai dengan pekerjaan
sehari-hari,jadi mudah dikenali. Kami dulu selain nelayan juga
pemelihara beragam jenis ikan. Orang kampung juga kenal dengan kami
sebagai keluarga peternak & penjual ikan. Ayah si Cu bernama
Arwana Moarae Holu, Ibu si Cu bernama Karapunoa Lumaya, Abang si Cu
bernama Sardinoa Samodra Otara. Namun sayang, mereka semuanya tewas
dilanda ombak dan badai saat menjala ikan di laut.
Aku
sesekali diajak Cuapingno & Aki jalan-jalan ke pantai sambil
mengobrol & sekedar menanti maghrib. saat itu mereka selalu
teringat wajah keluarganya yang kini telah pergi untuk selamanya. Ku
abadikan foto mrk sbg pelajaran kehidupan bagiku.Ketika
itu, Si Cu masih berumur 11 bulan 29 hari. Saat itu Aki sempat panik,
sebab cuaca saat itu tiba-tiba berubah, awan menjadi mendung dan badai
topan di laut berkecamuk, aki Cuma bisa memanjatkan doa keselamatan
kepada mereka sambil menggendong si cu yang tiada henti menangis”
ujarnya sambil terisak-isak menahan tangis. Ku lihat mata Si Cu juga
berkaca-kaca, ia tak bisa membendung air matanya, anak lelaki itu
berusaha untuk tegar sambil menghapus air matanya. “Oke, sorry, aku gak
ada maksud buat kalian sedih & cengeng begini...,soalnya aku
juga ikut sediiih..huk huk!”aku terharu dengan kisah keluarga ini,
meski aku anak metal yg jarang nangis, kini aku baru tau arti hidup
sebenarnya. Aku terbayang dengan keluargaku, mereka masih hidup tapi
malah meninggalkanku, menganggapku sampah keluarga, aku diusir dari
rumah sehingga sampai kini aku hidup di jalanan tanpa tujuan jelas.
Suara tangisku melebihi suara tangisan mereka. Aku nyaris teriak
histeris menyesali diri sendiri, apa yang sudah kulakukan selama ini.
Melihat ku seperti itu, mereka berhenti menangis, bengong serta heran
dengan sikapku. “Opick, opick, ada apa?” tanya Aki. “Tidak ada
apa-apa”jawabku sambil menghapus air mata dan menuang ingusku yang
keluar bersamaan air mataku. “Apa yang kau tangiskan,sepertinya sangat
menyedihkanmu, tragedi masa silam yang menimpa anak & menantu
serta cucuku itu sudah kami ikhlaskan dan serahkan kepadaNya jadi tidak
sampai sesedih kamu, pasti ada hal lain yang kamu sedihkan?” tanya
Aki. “Iya, Aki benar”sahutku. Aku pun menceritakan perjalanan hidupku
hingga aku kini memilih hidup sebagai anak metal jalanan.
...
“Aku
ingin berubah Ki?” kataku singkat. “Berubah yang bagaimana?”tanya Aki.
“Aku ingin bahagia jalani hidup Ki”kataku setelah merenung sejenak.
“Aku mau jadi orang baik, aku mau belajar senam sama kalian sepertinya
bagus buat nyehatin badan & nenangin pikiran”.kataku. “Ha,
senam?,senam apaan tu?” tanya Aki. “ Senam yg 5 kali sehari itu ya
bang?“ tanya Cuap. “Ya”. Oowh..itu Ki, sholat fardu 5 waktu” kata Cuap.
“Oooh, itu lebih dari sekadar senam pick” ujar Aki. “Bahkan, itu jurus
dasar mencari kebahagiaan hidup, iya kan Ki?” sahut Cuap sambil
menoleh ke Aki. Aki melongo, “emmm..ya ya..,Si cu benar,benaran kamu
mau belajar jurus ilmu tenaga jiwa ini?” tanya Aki. “Oh ya, yang benar
Ki, aku mau-aku mau!,yang penting pikiranku bisa tenang” kataku
bersemangat. “Kapan saya bisa mulai belajar Ki? Sekarang bisa
gak?”tanyaku. “Cu, lihat pukul berapa sekarang?”tanya Aki. “Kebetulan
Ki, 15 menit lagi waktu dzhuhur masuk”sahut Cuap sambil melihat jam
dinding tua yang digantung. “Baiklah, jurus ilmu jiwa bahagia ini
dinamakan sholat, untuk mempelajarinya & mengamalkannya mesti
ada syarat” kata Aki. “Apa syaratnya Ki?, apa perlu pake’ ayam kampung
hitam atau beras kuning & kemenyan?” kataku. “Owh, tidak perlu,
kita cukup berwudhu,yaitu membersihkan bagian anggota tubuh kita
dengan air bersih & mensucikan” jelas Aki. Aku melongo
& mengangguk-anggukan kepala. “Sekarang mari ikut Aki, Cu
contohkan gimana cara berwudhu yang benar sama abang Opick”ujar Aki.
“Baik Ki”.
.....
Setelah itu, waktu shalat dzuhur pun tiba.
Cuap menyangikan lagu dengan lantang, aku ingat lagu itu liriknya sama
dengan yang sering ku dengar di masjid & surau,tapi lagu apa
itu. Aku duduk terdiam mendengarkan lagu itu, memang terasa beda
dihatiku. Aku merasa tenang mendengarnya. Ingin rasanya kunyanyikan
lagu itu. Setelah Si Cu selesai bernyanyi,“Eh,cuap, lagu apa yang kau
nyanyikan?” tanyaku setengah berbisik. “Ini bukan lagu bang, tapi adzan
artinya suara tanda waktu shalat tiba” jawabnya. “Ooow..adzan”kataku.
Awalnya
aku agak canggung dan cuma bisa mengikuti sambil melihat gerakan
shalat. Setelah selama 6 bulan aku mengikuti segala apa yang mereka
lakukan termasuk shalat bersama mereka. Hatiku dan jiwaku merasakan
ketenangan yang amat dahsyat. Aku dibimbing untuk selalu berdzikir
yakni mengingat Allah swt kapan dan di mana saja berada. Aku sangat
menikmati dan larut dalam dzikir itu. Aki juga berpesan kepadaku,
setiap kali ada niat jahat yang terlintas dihati & pikiran agar
segera beristighfar. Kuingat dan kupegang nasehat & pesan dari
orang yang telah menyelamatkanku dari selokan itu.
“Ki, Cu.aku
minta maaf atas semua perangai kasarku, dan telah merepotkan kalian
selama ini, aku tidak tau mau kemana aku ini kalau sempat aku tidak
bertemu kalian. Aku merasa punya keluarga lagi.” Ujarku sambil
meneteskan air mataku. “Ya, sudahlah pick, Aki dan Cu juga sudah
menganggap kamu sebagai keluarga kami, tapi ingat, di sana ada
keluargamu yang harus kau sayangi, pulanglah pada mereka, buatlah mereka
tersenyum melihatmu kini berubah” ujar Aki dengan mata berkaca-kaca.
“Cu, adek abang yang baik, makasih banyak ya, udah mau nyuciin baju anak
metal” kataku sambil mengusap-ngusap kepalanya. “Yoi bang” jawabnya
sambil menahan tangis. “Kenapa, insyaAlloh, lain waktu kita bisa jumpa
lagi kok,” kataku. “Jika abangku masih hidup, dia gak jauh beda sama
abang”ujarnya. “Ya, Opick, kapan-kapan mampir ke sini ya” kata Aki.
Kamipun berpelukan dan menangis terharu. Aku harus melanjutkan langkahku
mencari spiritku yang hilang, menyusuri jalan memahami makna sebuah
perjuangan dan pengorbanan dalam hidup. Terima kasih kuucapkan pada
kalian.
Catatan by angah sanaci 10 Maret 2011 selesai pkl 11.46 WIB.
Aku hanyalah hamba-Nya.Aku bersyukur pd-Nya masih menunjukan jalan kebaikan hidupku.Sungguh
Ya Allah Ya.. Tuhanku, hamba mohon petunjuk dan ampunan-Mu dengan
segenap jiwa ragaku. Aku kapok terperosok & kotor lagi.
Menjadi baik butuh proses
Grup band Tengkorak, salah satu ikon anak metal Muslim di Indonesia